1.
PROSES
PENGOLAHAN GULA DI PG MADUKISMO
·
Pemerahan
Nira ( Extraction )
Tebu setelah ditebang dikirim ke stasiun
gilingan (ekstraksi). Untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas) dengan
cairannya yang mengandung gula (nira mentah) melalui alat-alat berupa unigrator
mark IV digabung dengan 5 gilingan, masing-masing terdiri atas 3 rol dengan
ukuran “36x 64”.
Ampas yang diperoleh sekitar 30% tebu untuk
bahan bakar tebu distasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan
dikirim ke stasiun pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah
kehilangan gula karena bakteri dilakukan sanitasi distasiun gilingan.
·
Pemurnian
nira
Madukismo menggunakan sistem sulfitasi. Nira
mentah ditimbang, dipanaskan 70º-75º c, direaksikan dengan susu kapur dalam
defekator, dan diberi gas SO2 dalam peti
sulfitasi sampai pH 7 kemudian dipanaskan lagi sampai suhu 100º-105ºc. Kotoran
yang dihasilkan diendapkan dalam peti pengendap (dorr clarifier) dan disaring
menggunakan rotary vacum filter (alat penapis hampa). Endapan padatnya
(blothong) digunakan sebagai pupuk organik. Kadar gula dalam blothong ini
dibawah 2%. Nira jernihnya dikirim ke satasiun penguapan.
·
Penguapan
nira
Nira jernih dipekatkan di dalam pesawat
penguapan dengan sistem Quadruple Effect, yang disusun secara interchangeable
agar dapat dibersihkan secara bergantian. Nira encer dengan padatan terlarut
16% dapat dinaikkan menjadi 64% dan disebut nira kental, yang siap dikristalkan
di stasiun kristalisasi/stasiun masakan. Total luas bidang pemanas 5990 m VO.
Nira kental yang berwarna gelap ini diberi gas SO2 sebagai bleaching/pemucatan,
dan siap untuk dikristalkan.
·
Kristalisasi
Nira kental dari stasiun penguapan ini diuapkan
lagi dalam pan kristalisasi sampai lewat jenuh hingga timbul kristal gula.
Sistem yang dipakai yaitu ACD, dimana gula A sebagai gula produk, gulaC dan D
dipakai sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur untuk dimasak lagi.
Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan vacum sebesar 65 CmHg , sehingga suhu
didihnya hanya 65ºC, jadi sakarosa tidak rusak akibat kena panas tinggi. Hasil
masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (stroop). Sebelum
dipisahkan di stasiun puteran, gula lebih dahulu didinginkan di dalam palung
pendingin (kultrog).
·
Puteran
gula ( Centripuge )
Alat ini bertugas memisahkan gula dengan
larutannya (stroop) dengan gaya sentrifugal.
·
Penyelesaian
dan Gudang Gula
Dengan alat penyaring gula, gula SHS dari
puteran SHS dopisahkan antara gula halus, gula kasar dan gula normal dikirim ke
gudang gula dan dikemas dalam karung plastik (polipropoline), kapasitas 50 kg
netto. Produksi gula perhari tergantung dari rendemen gulanya, kalau rendemen
8% maka pada kapasitas 3000 tth di peroleh gula 2400 ku atau 4800 sak.
Untuk
membantu proses produksi digunakan Pembangkit Tenaga Uap atau Tenaga Listrik.Sebagai
penghasil tenaga uap di gunakan 5 buah ketel pipa air newmark @ 6 ton/jam
masing-masing 440 m² VO dengan tekanan
kerja 15 kg/cm dan 1 buah ketel cheng-chen kapasitas 40 ton/jam. Uap yang
dihasilkan dipakai untuk menggerakkan alat-alat berat, memanaskan dan
menguapkan nira dalam pan penguapan, serta untuk pembangkit tenega
listrik.Sebagai bahan bakar di pakai ampas tebu yang mengandung kalori sekitar
1800 kkl/kg dan kekurangannya ditambah dengan BBM.
2.
PROSES
PENGOLAHAN DI PABRIK ALKOHOL/SPIRITUS
Didirikan bersama-sama PG. Madukismo pada tahun 1955 dengan kontraktor
dari jerman timur dan mulai berproduksi 1959 (1 tahun setelah PG. berproduksi).
Bahan bakunya tetes tebu (Molasses), yang merupakan hasil samping dari PG.
Madukismo. Proses yang dipakai adalah peragian (Fermentasi) dan ragi yang
dipakai Sacharomyces Cereviceae. Enzim yang dihasilkan oleh ragi ini mengubah
gula yang masih ada dalam tetes menjadi alkohol dan gas CO2.
Reaksi
Kimia
Saccarosa
dihidrolisa menjadi glukosa
C12H22O11 + H2O→2C6H12O6
Glukosa
bereaksi menjadi alkohol+gas CO2
C6H12O6→2C2 H5 OH+ 2CO2→alkohol
Alkohol
dibedakan atas dasar kualitas ada 2 yaitu:
1.
Alkohol
teknis : yang masih mengandung aldehide,kadar ± 94℅ digunakan untuk membuat
spiritus bakar.
2.
Alkohol murni: inimal kadar 95℅ bisa dipakai
pada industry farmasi, kosmetik dan lain-lain.
Hasil samping: minyak fusel ( amlaamyl
alcohol )
Pemakaian tetes: rata-rata 1 hari 900 kwt
Produksi rata-rata 25.000 l alcohol/24 jam,
terdiri dari (90℅ alcohol murni, 10℅alk0hol teknis).
Rendemen
:27,0℅ l alcohol/kwt tetes.
Ada 3 tahap proses pembuatan alcohol:
1.
Masakan
Tetes
diencerkan dengan air sampai kadar tertentu dan ditambah nutrisi untuk
pertumbuhan ragi sebagai sumber Nitrogen dipakai pupuk urea dan sebagai sumber
pospor dipakai pupuk NPK, PH diatur sekitar 4,8 dengan H2SO4 agar tidak terjadi
kontaminasi dari bakteri lain.
2.
Peragian
Peragian
dilaksanakan mulai volume3.010,18000 liter dan 75000 liter, waktu peragian
utama berkisar 50-60jam dan kadar alcohol disampai antara 9℅ sampai 10℅.
3.
Penyulingan
Adonan
yang telah selesai diragikan , dipisahkan alkoholnya (disuling) didalam pesawat
penyulingan yang terdiri dari 4 kolom dan penyulingan dilakukan dengan mengunakan tenega uap dengan tekanan 0,5
kg/cm2 suhu 120ºC.
1.
Kolom
Maische
Alcohol kasar kadar ±
45℅→masuk kolom vorloop
Hasil bawah: vinase dibuang
2.
Kolom
Voorloop
Hasil atas: alkohol teknis kadar: 94℅ masih
mengandung aldehide, ditampung sebagai hasil.
Hasil bawah: alkohol muda kadar ± 25℅→masuk
kekolom rektifiser
3.
Kolom
Rektifiser
Hasil
atas: alkohol murni (prima 1) kadar minimal 95℅ ditampung sebagai hasil.
Hasil
tengah: alkohol muda yang mengandung minyak fusel, masuk kolom nachloop.
Hasil
bawah: lutter waser, air yang bebas alcohol, kadang-kadang bila perlu sebagian
digunakan untuk menambah kolom voorloop sebagai bahan penyerap alcohol dan
sebagian dibuang.
4.
Kolom
Nachloop
Hasil
atas: alkohol teknis kadar 94℅ ditampung sebagai hasil.
Hasil
bawah: air yang bebas alkohol, dibuang .
Minyak fusel (Amyl Alkohol) merupakan hasil
samping pabrik sepiritus, ini biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan
Essence (Amylacetat)
4.
LIMBAH
INDUSTRI
jenis limbah industry yang tibul dan cara
pengolahannya
1.
Limbah
Padat
a)
Pasir
atau Lumpur
Kotoran yang terbawa nira mentah, dipisahkan
dgn dorrchone, dimanfaatkan untuk uruk lahan atas permintaan masyarakat
b)
Abu
Ketel Uap
Sisa pembakaran di stasiun ketel uap, ditampung
dengAn lori jading dan dimanfaatkan juga untuk uruk lahan yang memerlukan.
Sekarang untuk bahan baku pupuk “Mix Madros “.
c)
Debu/Langes
dari Ketel Uap
Debu /langes yang terbawa keluar lewat cerobong
asa, ditangkap dengan alat penangkap debu (Dust Collector) dan ditampung dalam
lori jading.
d)
Blothong
Endapan kotoran dari nira tebu yang terjadi di
stasiun pemurnian nira dipisahkan dengan alat rotary vacuum filter,
dimanfaatkan untuk pupuk tanaman lain, bisa juga dimanfaatkan untuk bahan lain.
Jumlahnya cukup banyak, sekitar 100 ton/hari. Sekarang untuk bahan baku pupuk
“Mix Madros”.
2.
Limbah
Cair
a.
Bocoran
Minnyak Pelumas
Berasal dari pelumas mesin-mesin di stasiun
gilingan dan pelumas yang terbawa pada air cucian kendaraan garasi pabrik.
Bocoran minyak pelumasini dipisahkan dalam air limbah di dalam penangkap
minyak, kemudian ditampung dalam drum-drum untuk di manfaatkan lagi.
b.
Vinasse
(Slop)
Berasal dari sistem penyulingan alkohol, di
stasiun sulingan PS. Madukismo, jumlahnya cukup besar, sebelum sekitar 20
m³/jam, suhu: 90º pH 4-5, warnanya coklat hitam. Sebelum dibuang ke sungai,
diolah terlebih dahulu di unit pengolahan limbah cair (UPLC) yang ada, dengan
menggunakan sistem/cara biologis. Operasionalnya masih perlu disempurnakan lagi
secara bertahap, agar hasilnya memenuhi baku mutu limbah cair dari pabrik gula.
Dan limbah pabrik spiritus banyak dimanfaatkan untuk air irigasi oleh pertanian
di sekitar pabrik, karena mengandung unsur N, P, dan K yang diperlukan untuk
pupuk.
c.
Limbah
Soda
Berasal dari cucian pan-pan penguapan di pabrik
gula yang kandungan COD dan BODnya cukup tinggi. Jumlahnya relative sedikit,
pengolahannya diikutkan di UPLC yang ada.
3.
Gangguan
Lingkungan Yang Lain
a.
Suara
Bising
Berasal dari bocoran uap yang berlebih di
stasiun ketel uap, untuk meredam suara tersebut, saat ini sudah dilengkapi
dengan silencer (alat peredam suara) di setiap ketel uap.
b.
Limbah
Gas
Bau belerang dan bau busuk yang lain,
ditanggulangi pada alat-alat yang terkait (Inhouse Keeping).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar