IV.2 UPT BPPTK LIPI Gunung Kidul
1V.2.1 Pola Kerjasama UPT BPPTK LIPI
(YOGYAKARTA)
Beberapa produk dengan
bahan baku alam seperti : destilat sirih, tepung pati bengkuang, tepung
mengkudu, teh daun mengkudu, tepung jahe,tepung temu lawak, minuman seduh
kelopak bunga Cranberry,sirup Cranberry, teh seduh daun jombang, saus cabai
merah, teh seduh jamur lingzhie, pathilo, abon tuna, ikan tuna kaleng,tempe
kari kaleng, mangut kaleng,gudeg kaleng,udang kari kaleng, sabun padat
transparan sirih, tepung BMC Tempe, MP Asi Sari Tempe Instan, Chitosan farmasi
grade, Chitosan food grade, Chitosan industrial grade, silase, konsentrat pakan
rumanansia, lemo feed, dan lain-lain, telah dibuat dengan memanfaatkan
peralatan yang dimiliki UPT BPPTK LIPI Jogjakarta. Produk-produk tersebut telah
diperkenalkan melalui kerjasama dengan pengusaha swasta yang bergerak dalam
bodang pemasaran. Usaha produksinya terus berkembang walaupun besarnya omset
secara keseluruhan sampai saat ini masih terbatas. Kontrak kerjasama produksi
dengan nilai minimal Rp. 30 juta setahun sedang dipersiapkan dan diharapkan
segera dapat direalisasikan. Pengelolaannya akan dilaksanakan melalui mekanisma
PNBP. Akan dibuat usulan kegiatan penelitian produksi bahan-bahan ini untuk
tahun anggaran kegiatan 2011 agar kegiatan yang sudah nyata ini dapat lebih
dikembangkan.
Kerjasama dalam
penelitian dan implemntasi hasil-hasil Litbang yang merupakan Tupoksi UPT BPPTK
LIPI. Kerjasama yang dilakukan dengan Stake Hoder baik dilingkungan LIPI maupun
di luar LIPI ,bentu kerjasamanya antra lain :
a. Kerjasama penelitian dalam bidang dari hasil pertanian dilakukan antara
lain:Jarlit BAPPEDA Gunungkidul, Jarlit BAPPEDA Provinsi DIY, Akademi Gizi
Yogyakarta, UGM, UMS, dll.
b. Kerjasama produksi meliputi :
·
melasanakan ali
teknologi dari hasil penelitian yang telah teruji melalui bentuk pelatihan
·
inkubasi UKM dalam
peningkatan kualitas produk
·
maklun (jasa)
c. Kerjasama pemberdayaan masyarakat (SDM) yang mencakup :
1.sosialisasi Hasil Litbang pertanian, perikanan dan
peternakan
2.turut serta dalam asosiasi
didalam kegiatan di masyarakat, seperti :pokja, plasmanutfah, kelompok
pemberdayaan wanita, kelompok penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk,
kelompok tani, dll.
1V.3KEGIATAN
LABORATORIUM BESERTA RISET YANG DIKERJAKAN UPT BPPTK LIPI:
Produk dari UPT BPPTK LIPI:
1) GUDEG KALENG YANG TAHAN HINGGA SATU TAHUN
Gudeg adalah makanan khas
Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan
santan dan dibumbui dengan kluwak. Penggemar makanan ini relatif banyak.
Sayangnya, gudeg memiliki masa simpan cukup pendek. Proses pengalengan telah
dilakukan terhadap makanan gudeg, dan produk dapat memiliki masa simpan hingga
1 tahun.
Komposisi kandungan : GIZI % per 100 g, Lemak 5.12, Protein 5.33,
Karbohidrat 12.47, kadar air 73.28 dan kadar abu 1.72 terdaftar BPOM. RI . MD.
555112001035
2) SILASE PAKAN KOMPLIT
Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan
salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi
antara lain disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau dan
berkurangnya nafsu makan ternak karena panas. Pakan ternak komplit ini
merupakan salah satu hasil penelitian yang telah di ujicobakan ke sapi-sapi
yang ada di Gunung Kidul. Dari hasil uji coba pakan ternak komplit menunjukkan
adanya korelasi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan sapi.
3) MANGUT LELE KALENG
Mangut lele merupakan makanan khas dari
daerah Bantul, Yogyakarta. Lele dimasak dengan menggunakan bumbu mangut, yang
didominasi dengan kuah dari santan. Komposisi Gizi Mangut Lele Kaleng : GIZI %
per 100 g, lemak 6.24, protein 6.58, karbohidrat 9.63, kadar air 75.71, kadar
abu 1.66 terdaftar BPOM.RI.MD. 517112003035
4) KOTORAN SAPI UNTUK ENERGI ALTERNATIF
Usaha pencarian dan pengembangan energi
alternatif (terbarukan) non bahan bakar minyak (BBM) terus diupayakan. Salah
satunya adalah pemanfaatan kekayaan sumber daya peternakan Indonesia yang
menyimpan potensi energi terbarukan, yakni biogas. Biogas merupakan sumber
energi alternatif yang berasal dari kotoran sapi.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi
Kimia (BPPTK) Gunung Kidul, Yogyakarta telah memunculkan suatu sistem pertanian
terintegrasi atau terpadu tersebut. Sistem Pertanian Terpadu ini berangkat dari
pengembangan peternakan sapi yang menghasilkan kotoran melimpah, diolah dengan
alat biogas untuk menopang kebutuhan pertanian.
Alat biogas mampu menghasilkan energi bagi kebutuhan
rumah tangga petani dan olahannya. Selain itu, efluen(sampah) biogas bisa
digunakan sebagai sumber pupuk organik yang dipakai untuk bercocok tanam maupun
tambahan hijauan pakan ternak. “Terintegrasi berarti seperti sebuah siklus.
Semua komponen dalam sistem bekerja dan menghasilkan manfaat yang memberi nilai
tambah ekonomi,” ungkap Satriyo Krido Wahono, Peneliti UPT BPPTK LIPI
Yogyakarta.
Menurutnya, selain
memadukan pertanian dan peternakan, sistem ini juga merambah pada budidaya
perikanan. “Ada keterkaitan antara biogas dari kotoran sapi sebagai sumber
energi yang juga termanfaatkan untuk pupuk organik, dengan olahan sampah biogas
untuk media budidaya ternak lain, seperti ikan,” tambahnya.
Alat biogas atau sering
disebut digester biogas biasanya dibuat sesuai kebutuhan di lingkup peternakan
maupun pertanian yang ada. sistem pertanian terpadu berbasis alat biogas salah
satunya diujicobakan dalam penelitian di daerah Kapitan Meo, Kabupaten Belu,
Nusa Tenggara Timur (NTT). “Penelitian dilakukan dengan membuat unit biogas
dengan kapasitas 27.000 liter,” ungkapnya.Ia menjelaskan, alat biogas itu
dibuat dengan ukuran nominal penampung gas diameter 3 meter (m) dan tinggi 2,4
m. Volume tersebut diasumsikan untuk menampung kotoran sapi sebanyak 9 ekor. “Bahan
pembuatan digestermenggunakan beton bertulang, saluran pengumpan dan efluen-nya
(saluran sampah) dari pipa PVC diameter 4 inchi,” imbuhnya.
Kemudian, Andi Febrisiantosa, Peneliti UPT BPPTK LIPI Yogyakarta lainnya
menambahkan, bakpengumpan dan efluen berasal dari pasangan bata batako dengan
diameter 300 cm, tinggi 240 cm dan kapasitas tampungnya 15.000 liter.
Proses kerja biogas yaitu:
Andi menjelaskan sistem kerja alat
biogas bermula dari pengumpanan digester dilakukan dengan pengglontoran dan
pengenceran kotoran sapi. Pengenceran dilakukan melalui penyampuran kotoran
dengan air sehingga berbentuk lumpur. Lumpur kotoran dialirkan melalui parit
yang dilengkapi jeruji pada posisi dekat lubang pemasukan digester (alat
biogas) untuk memisahkan sisa pakan. “Dengan adanya jeruji pemisah tersebut,
sisa pakan akan tertahan sedangkan lumpurnya masuk ke dalam digester,”
tambahnya.
Dikatakan Andi, alat
biogas akan memproses lumpur dan menghasilkan gas yang disalurkan ke perumahan
dan digunakan sebagai bahan bakar kompor dan generator set (genset) berbahan
bakar gas dengan kapasitas 750 watt 220 volt. “Bahan bakar gas yang diharapkan
adalah CH4 atau gas metana,” tandas Andi.
Selain menghasilkan gas
untuk listrik, Satriyo menambahkan, sisa sampah biogas yang keluar dari pipa
pembuangan dalam bentuk lumpur dapat pula dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Caranya dilakukan pemisahan antara padat dengan cair dengan pengendapan dan
penyaringan. Padatan diendapkan satu malam serta cairannya disaring selanjutnya
dianalisa kandungan mineralnya,” urainya.
Keduanya dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik asal kandungannya sesuai yang disyaratkan.
Tak hanya itu saja, dia menuturkan, sisa biogas tersebut juga bisa dipakai
untuk media budidaya ikan maupun cacing (pakan ikan). “Sistem pertanian terpadu
berbasis biogas berupaya mengoptimalisasi pemanfaatan limbah yang terbentuk
agar lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.
Terkadang hasil
pengolahan kotoran sapi dari digester (alat biogas) belum menghasilkan gas CH4
alias metana (gas yang berperan untuk energi listrik maupun lainnya) secara
maksimal. Hasilnya adalah energi gas untuk menghidupkan kompor maupun genset
kurang optimal.
Satriyo Krido Wahono,
Peneliti UPT BPPTK LIPI Yogyakarta mengatakan, untuk mengatasi persoalan
tersebut, pihaknya telah menciptakan alat filter biogas. “Tujuan filter adalah
meningkatkan performa biogas dengan pemurnian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, spesifikasi alat ini berukuran berat 2.500 gram per paket
berbentuk silinder dengan panjang antara 50-70 cm dan diameter (ukuran tengah)
10-12 cm. “Filter tersebut terpisah dari digesterdan harga di pasaran sekitar
Rp 1 juta per paket,” tambahnya.
Adapun keunggulan alat
itu, Satriyo menyebutkan bahwa materi penyerap mempunyai sifat/kemampuan
multi-adsorpsi (membersihkan) semua gas pengotor biogas. “Dengan penggunaan
filter, kadar gas metana dalam biogas dapat meningkat sebesar 5-20 % dari kadar
metana awal,” tandasnya.
Keunggulan lain, lanjutnya, biogas hasil penyaringan mampu meningkatkan
efisiensi konversi (pengubahan) energi listrik dengan menggunakan genset.
“Energi listrik yang dihasilkan maksimal dan sesuai yang diharapkan,” imbuh
dia.
Tak hanya itu saja, lelaki kelahiran Blitar Jawa Timur tersebut menuturkan,
filter juga mengurangi potensi korosi pada kompor atau mesin konversi energi
lainnya. Untuk pengembangan lanjutan, filter dapat dikembangkan lebih lanjut
untuk pemurnian berbagai macam gas yang bersifat sebagai polutan (penyebab
polusi udara), baik di cerobong asap pabrik, kendaraan bermotor dan lainnya.
Satriyo menambahkan, alat berbentuk silinder hasil penelitiannya bersama
tim tersebut mengandung material penyerap berbahan padat berbasis material
lokal Indonesia. “Kami membuat alat ini dengan komponen utama berasal dari
dalam negeri,” tutupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar